Sisi Positif Perceraian Bagi Anak

Banyak pasangan suami istri yang terlibat konflik serius dalam rumah tangganya, memilih bertahan untuk tidak bercerai. Alasan mereka, demi anak-anak.

Tapi, menurut penelitian terbaru di Amerika Serikat, ternyata anak-anak akan mengalami dampak yang buruk bila tetap hidup bersama orangtua yang bertengkar terus, seperti dikutip dari Timesofindia.

Anak-anak dari keluarga yang sering berkonflik akan mengalami hubungan yang penuh konflik pula di masa dewasanya, jika dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya sering bertengkar tapi memutuskan untuk bercerai.

"Implikasi yang paling dasar adalah jangan tinggal bersama demi anak-anak jika Anda dalam perkawinan yang hancur," kata peneliti Constance Gager dari Montclair State University di New Jersey.

Penelitian juga mengungkapkan, konflik antara orangtua yang terjadi secara konstan dapat menyebabkan hubungan anak-anak mereka di masa mendatang menjadi memburuk.

"Kalau mereka terus menerus berada di tengah pertengkaran dan orangtua tetap tinggal bersama, itu berarti mereka akan selalu kena dampak konflik itu. Sedangkan jika orangtua mereka bercerai, setidaknya ada kesempatan bagi orangtua untuk mengurangi konflik setelah perceraian, " kata Gager.

Beberapa penelitian juga mengungkapkan, anak yang memiliki orangtua bercerai memang lebih mungkin mengalami perceraian di masa dewasanya. Tapi, ini belum jelas apakah perceraian disebabkan oleh mereka sendiri atau memang konflik orangtua berdampak sangat besar terhadap hubungan anak-anaknya kelak.

Untuk penelitian ini, Gager dan rekan-rekannya menganalisis hasil survei nasional yang melibatkan hampir 7.000 pasangan menikah dan anak-anak mereka di Amerika Serikat. Hasilnya, anak-anak yang orangtuanya sering bertengkar, namun akhirnya bercerai justru memiliki hubungan lebih baik di usia dewasanya nanti, dibandingkan anak-anak yang memiliki orangtua yang sering bertengkar tapi tidak memutuskan bercerai.

Penelitian ini telah memperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan anak saat mereka menjadi dewasa. Misalnya, apakah anak-anak cenderung memiliki kesulitan bergaul dengan orang lain atau tidak.

Tapi, tidak berarti bahwa perceraian tidak akan mempengaruhi anak-anak dalam jangka pendek, kata para peneliti. “Penelitian menunjukkan, anak-anak akan mengalami krisis selama satu atau dua tahun ketika orangtua bercerai. Tapi, mereka tabah dan bangkit kembali dari perceraian itu,” kata Gager.

Penelitian ini dipresentasikan tahun lalu pada Pertemuan Tahunan Asosiasi Penduduk Amerika


http://kosmo.vivanews.com/news/read/183568-sisi-positif-perceraian-bagi-anak